Atlet atlet Indonesia di cabang Badminton tampil begitu dan sangat luar biasa di ajang Asian Games 2018. Bagaimana tidak, dari target satu medali emas yang dicanangkan oleh PBSI sebelum ajang empat tahunan ini berlangsung, Indonesia malah bisa mengamankan dua medali emas, dua medali perak dan empat medali perunggu.
Dilansir dari Asiangames2018.id (30/08/2018), Indonesia sukses meraih medali emas dari nomer ganda putra melaluia Kevin Sanjaya Sukomuljo dan Marcus Fernaldi Gideon serta tunggal Putra Jonatan Christie. Medali perak disumbangkan oleh team beregu putra Indonesia dan ganda putra Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto sedangkan medali perunggu oleh ganda putri Apriani Rahayu dan Greysia Polii, ganda campuran Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad , tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dan nomer beregu putri.
Dilansir dari Badmintonindonesia.org (30/08/2018) menyebutkan bahwa Susi Susanti sangat mengapresiasi perjuangan atlet atlet Indonesia yang tampil di nomer ini. Apalagi di nomer ganda putra dan tunggal putra. Susi mnenyebut sangat terkejut bahwa di nomer ini bisa terjadi All Indonesian Finals dan tentunya yang paling menakjubkan adalah prestasi para pemain tunggal putra Indonesia di ajang ini.

Sumber gambar badmintonindonesia.org (31/08/2018)
"Hasil ini melebihi target emas, di ganda putra pun melebihi target. Buat saya, di ganda putra tidak ada yang juara satu juara dua. Mereka berempat lah juaranya. Walaupun sesama pemain Indonesia tapi daya juang dan semangatnya luar biasa, Untuk tunggal putra, sebetulnya belum ada target juara, justru di ganda putra dan ganda campuran " kata Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI.
Indonesia yang mampu meraup banyak medali di cabang bulutangkis ternyata sangat jauh dengan prestasi dengan para pebulutangkis negeri sebrang yakni Malaysia. Malaysia di ajang Asian Games 2018 bisa dikatakan tampil sangat buruk. Tak ada sekeping medalipun yang mereka bisa bawa pulang dari Bulutangkis. Berbeda dengan empat tahun lalu saat tampil di Incheon Korea Selatan dimana mereka bisa membawa pulang empat medali perunggu seperti dilansir dari bwfbadminton.org (24/08/2014).
Tahun ini, Malaysia harus pulang dengan tangan hampa. Bahkan peraih medali perak Olimpiade 2016 mereka yakni Tan Wee Kiong dan V Shem Goh di ganda putra dan Goh Liu Ying dan Chan Peng Soon di ganda putra tak bisa berbuat banyak.

Sumber gambar badmintonindonesia.org (31/08/2018)
Bahkan salah satu media nasional Malaysia yakni Thestar bahkan sampai menyandingkan permainan tunggal putra yang mereka kirim ke ajang tersebut dengan prestasi tunggal putra Indonesia. Melalui media thestar.com.my (30/08/2018) dalam artikelnya yang berjudul "Failure doesn’t bode well for badminton at 2020 Tokyo Olympics.", mereka menyebut bahwa pebulutangkis tunggal putra Malaysia bermain jelek dan punya gap yang sangat jauh dengan Lee Chong Wei. Sedangkan tunggal putra muda Indonesia malah bermain sangat baik dengan kualitas yang sangat tinggi.
While men’s singles back-up players such as Lee Zii Jia, Cheam June Wei, Soong Joo Ven and others are trying to narrow the gap with Chong Wei, youngsters from Indonesia – 20-year-old Jonatan Christie and Anthony Ginting, 22, – showed their high quality.
"Sementara pemain tunggal pelapis seperti Lee Zii Jia, Cheam June Wei dan Soong Joo Ven dan lainnya masih mencoba untuk mendekatkan jarak dengan Lee Chong wei, pemain-pemain muda Indonesia seperti Jonatan Christie yang masih berusia 20 tahun dan Anthony Sinisuka Ginting yang berusia 22 tahun menunjukkan kecemerlangan dan kualitas mereka yang sangat luar biasa."