Apalagi yang lebih menyakitkan dari pada seteru dengan saudara sendiri? Saudara sebangsa, bahkan seiman?
Bahkan di saat seorang dai, seorang ustaz akan melakukan safari dakwah ke sejumlah kota, dihalang-halangi. Lebih-lebih, dengan kecurigaan dan tuduhan yang membabi-buta.
Ustaz Abdul Somad dengan berat hati membatalkan rencana dakwahnya di berbagai kota di Jatim, Jateng dan DIY lantaran sudah terjadi intimidasi dan ancaman padanya. Bahkan salah satu ormas, GP Ansor Jepara, jauh hari sebelum ceramah UAS akan digelar, sudah keras mengeluarkan surat edaran penolakan dengan tiga poin penjelasan, Kumparan.com (4/9/2018).
https://i.ytimg.com/vi/vQfrxBecoFg/maxresdefault.jpg
Sayangnya, justru menampar wajah mereka sendiri karena siap-siap malu.
Poin pertama, pihak GP Ansor meminta polisi supaya memonitor dakwah UAS jangan sampai didomplengi HTI. Meminta memastikan di sana tidak ada simbol-simbol dari HTI. Lucu! GP Ansor minta aparat monitori Ustaz Somad? Sedang kepolisian, TNI, MPR DPR dan lembaga negara lainnya bahkan Wapres RI saja justru tanpa segan pernah mengundang Ustaz Somad mengisi ceramah di acara mereka masing-masing. Lantas meminta polisi memonitor?
Itu sama artinya beranggapan bahwa keputusan lembaga-lembaga negara memanggil UAS, adalah tindakan yang tidak tepat dan meragukan ke-pancasilaan mereka, bukan? Padahal, seharusnya GP Ansor tahu. Untuk menjadi seorang penceramah dengan jamaah sekelas para pejabat negara, jelas tidak sembarangan. Apalagi sampai anti pancasila. Tidak mungkin diundang!
Poin kedua, meminta di setiap acara UAS selalu ada Bendera Merah Putih dan dinyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebentar, apa yang sebenarnya diinginkan GP Ansor ini? Tepatnya, ketakutan apa yang sudah merasuk dalam diri mereka? Tak pasang bendera dan tak nyanyikan lagu kebangsaan, apa lantas bisa dicap anti NKRI? Anti Pancasila? Lucu! Ah, tak masalah. Toh saat ceramah di Kampus Unissula Semarang, Ustaz Somad dan jajaran kepolisian serta ormas lainnya menyanyikan lagu kebangsaan dengan segenap hati. Juga saat dugaan persekusi di Bali lalu.
kumparan.com
Poin ketiga, GP Ansor mengaku menjaga kondusifitas daerah dan menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan ideologi yang ingin ganti Pancasila? Lihatlah, jika yang ada, justru tuduhan tak berdasarnya pada UAS ini, menjadikan negeri bergejolak. Menolak seorang Ustaz dakwah menebar syiar agama. Apa yang ditakutkan? Jika dalam setiap ceramahnya saja, UAS justru menguatkan nasionalisme, kebhinekaan soal keberagaman. Tak percaya? Buktinya baru-baru kemarin, MPR memintanya ceramah. Bahkan seorang nonmuslim saja mengangumi UAS.
Sudahlah, GP Ansor. Tiga poin penolakan tak berdasar dan mengada-ada itu justru pada akhirnya menampar wajahmu sendiri. Rakyat sudah cerdas. Biar kami yang menilai. Siapa yang bagaimana. Pada akhirnya, siapa yang berbuat pun harus menerima balasannya. Sepadan.

