Banyak orang bilang ‘ada duit ada saudara’. Jangankan saudara, orang yang tidak kenal pun mengaku saudara kalau kita banyak duit! Memang miris, tapi itulah kenyataannya, seperti kisah berikut ini.
Diceritakan. Seorang pria (sebut saja Alex) yang sudah sukses dan berhasil di kota. Alex dan ibunya tinggal di rumah besar, mobilnya juga mobil mewah. Saudara ibunya di kampung kerap kali telepon ke ibunya dan mengirimkan bingkisan, kelihatannya memang baik banget, tapi sebenarnya.
Ketika Alex kembali ke rumah, ibunya berkata bahwa bibinya telepon mengajak mereka pulang kampung untuk makan-makan karena sudah lama tidak berkumpul. Sontak Alex pun kesal, "Ibu masih kontekan sama mereka? Ibu sudah lupa gimana perlakuan mereka dulu sama kita?"
Dulu waktu masih susah di kampung, ibunya mau meminjam uang ke saudaranya tapi tidak ada seorang pun yang mau meminjamkannya. Bahkan ketika ia sakit pun, bibinya tetap tidak mau meminjamkannya uang untuk berobat. Kini tahu ia dan ibunya sudah berhasil di kota, bibinya jadi sering telepon, kirim oleh-oleh, pura-pura baik, ya tahulah buat apa.
Tapi ibunya tetap bersikeras untuk pulang karena bagaimana pun juga mereka masih tetap saudara. Ibunya pun menyuruh Alex jangan prasangka buruk dulu, siapa tahu mereka sekarang sudah berubah jadi baik. Melihat ibunya begitu optimis, Alex pun terpaksa memenuhi permintaan ibunya.
Begitu tiba di kampung, seluruh kerabatnya sudah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka. Begitu ketemu, bibinya langsung memuji-mujinya, "Aduh, udah lama gak ketemu, makin ganteng yah sekarang!"
Semua kerabatnya satu-satu kasih dia bingkisan, ada yang kasih ubi hasil panen sendiri, ada yang kasih kacang hasil cocok tanam sendiri. Tak lupa, si bibi juga sudah menyiapkan bingkisan wine mahal mahal untuk mereka. Ia pun dengan sopan menolak bingkisan bibi dengan alasan terlalu mahal, tidak usah repot-repot, lagi pula dia juga tidak bisa minum.

Referensi pihak ketiga
Setelah kasih bingkisan, barulah bibinya menunjukkan maksudnya yang sebenarnya, yaitu minta bantu anaknya dapat kerjaan di perusahaannya. Kerabat yang lain juga satu-satu minta dia untuk bantu kasih anak mereka kerjaan di perusahaannya.
Ibunya sudah mau memenuhi permintaan mereka, tapi Alex mendorong kaki ibunya untuk menyuruhnya diam, biar ia saja yang bicara.
Alex pun mengaku ke semuanya kalau perusahaan dia sekarang sudah bangkrut dan terlilit hutang yang besar. Dia segenap hati ingin membantu saudara-saudara sekalian tapi apa daya dengan kondisinya yang sekarang.
Mendengar itu, bibinya langsung berubah180 derajat. Dia suruh anaknya ambil kembali bingkisan yang tadi dia kasih, begitu juga dengan saudara-saudara yang lainnya, langsung mengambil kembali barang-barang yang mereka kasih.
Cuma, ada satu saudara yang baik dan berkata, "Kok kalian gitu sih? Masa barang udah kasih diambil lagi?"
Alex pun bilang tidak apa-apa, mereka cuma pulang sebentar, nanti juga kembali ke kota, tidak akan merepotkan mereka jadi tidak usah takut.
Tapi bibinya yang mata duitan itu langsung bilang, "Gimana gak repotin? Kalau tau gini ngapain kita repot-repot kasih kamu barang? Masih berani makan lagi!?"
Saudara yang baik tadi pun bilang, "Kamu kok begitu ngomongnya? Jarang-jarang kan dia pulang."
Tapi bibinya malah bilang, "Mau gimana lagi? Mereka sekarang udah gak punya kuasa, gak punya duit, ngapain lagi dia pulang?"
Saudara yang baik itu cuma bisa geleng kepala dan memberikan sedikit uang jajan kepadanya, "Ini, sedikit dari bibi, nah ambillah."
Alex pun langsung bilang sama ibunya, "Ma, sekarang udah liat mereka aslinya seperti apa? Ini yang ibu bilang saudara, kebaikan, persaudaraan? Saya udah liat dengan jelas."
Ibunya pun baru sadar, "Saya kira setelah sekian lama, kalian sudah berubah, tapi ternyata… Kalian benar-benar membuatku kecewa. Nak, ayo kita pulang."
Akhirnya Alex pun menelepon supirnya untuk jemput dengan mobil mewahnya, tapi sebelum pergi, dia memanggil bibinya yang tadi baik itu untuk bawa anaknya ke kantornya besok. Dia diterima kerja. Sedangkan saudara yang lain yang tadi bersikap merendahkan itu pun cuma bisa menundukkan kepala mereka di meja makan.

Referensi pihak ketiga
Nah, bagaimana menurut sahabat semua? Bila ada pendapat atau masukan silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa berikan like & share juga lalu klik ikuti bila menyukai postingan ini. Terima kasih.