"Daya listrik sudah ditambah belum? Siapa yang mau ngurusnya!" Ucap RF dengan nada tinggi persis ketika ayahnya baru saja sampai dari menjemput keluarga jauh luar kota yang tak tahu lokasi rumah. Dengan kondisi badan yang masih capek selepas menyetir sektitar 4 jam si ayah bergegas menuju kantor PLN terdekat, mengurus penambahan daya listrik untuk pesta pernikahan putra satu-satunya itu.
Si ayah bukanlah orang yang sigap berkomunikasi, beliau punya keterbatasan fisik (gangguan syaraf bicara) pasca kecelakaan mobil belasan tahun silam. Dengan kondisi seperti itu si ayah kerap kesulitan dalam hal koordinasi menyiapkan pesta pernikahan yang tinggal satu hari lagi.
"Orang tua macam apa kamu ini, ngurus hal sepele aja gak beres!" Teriak RF usai mendengar urusan penambahan daya listrik belum selesai. "Bagaimana tukang tenda mau menyelesaikan pemasangan tenda malam ini, gelap-gelapan? aku sudah bilang dari jauh-jauh hari pak SF!" Tambah RF dengan menyebut nama ayahnya.
Si ayah hanya terdiam, beberapa keluarga yang sudah berkumpul hanya menyaksikan. Seolah tak percaya RF tega berkata kasar kepada orang tuanya sendiri. Beruntunglah kemudian datanglah kakak ipar RF yang cepat membaca situasi dan mengurus segala keperluan, secara gesit memimpin tim persiapan acara pernikahan. Masalah mulai diurai, persiapan sudah 80%.
Namun hal tak terduga terjadi, sore itu tiba-tiba langit seolah turut murka dengan kelakuan kasar RF pada orang tuanya. Angin mendadak sangat kencang, petir menyambar berulang kali, dan pasukan hujan turun berderap menghujam bumi seakan tidak mau berhenti. Padahal sudah berbulan-bulan di daerah itu tidak kunjung didatangi hujan.
Dokumen Pribadi
Sebagian besar tenda rusak parah. Ada yang sobek, ada yang miring, dan ada yang roboh. Ditambah lagi genangan air yang mancapai setinggi lutut orang dewasa. Jelas saja kondisi seperti itu membuat persiapan terhambat. Kursi-kursi tamu yang sudah ditata rapi terpaksa dihimpun kembali.
sumber ilustrasi: beritajatim.com
Tulisan ucapan 'mohon doa restu' dan 'selamat datang' diturunkan lagi. Ibu-ibu di pekarangan rumah yang sedang sibuk memasak jadi kocar kacir berlomba dengan derasnya air, menyelamatkan kompor, gas dan makanan dari serangan air hujan yang ditiup angin kencang.
Belum cukup sampai disana, tiba-tiba terdengar teriakan dari tenda. Ada api menyala di belakang panggung. Entah darimana api yang mulai berkobar memakan papan panggung itu. Diduga karena korsleting pada rangkaian listrik yang menyebabkan percikan api. Syukurlah api bisa dipadamkan, tetapi sebagian besar pelaminan tempat RF akan bersandang berubah hitam gosong.
sumber ilustrasi: borneonews.com
Melihat semua kekacauan itu, RF hanya berdiri mematung dengan pandangan datar, kosong.
Duhai para pembaca, hendaklah kisah ini menjadi pelajaran yang menampar bagi kita semua. Janganlah sekali-sekali berkata kasar atau berbuat yang itu bisa menyakiti hati orang tua. Purcuma banyak uang atau jabatan tinggi kalau tega durhaka pada orang tua, sudah niscaya hidup tidak akan berkah.
Sumber Utama: Terinspirasi dari kejadian nyata yang penulis saksikan langsung.


