Usianya 26 tahun, bekerja di bagian konveksi. Banyak orang mengatakan dia masih seperti gadis karena wajahnya jelita dan menarik, kendati sudah berumah tangga dan beranak satu. Panggil saja namanya, Silvia (samaran).
Dalam kesibukan bekerja, Silvia selalu meluangkan waktu untuk bersosial media, terutama Facebook. Hingga suatu hari dia mengenal seorang laki-laki yang beprestasi dalam perdagangan dan pendidikan. Sebut saja namanya, Bagas (samaran).
Bermula dari saling like status, komentar, lalu perkenalan singkat lewat inbox. Keduanya merincikan keadaan masing-masing, Silvia pun tak segan mengatakan dia sudah menjadi seorang ibu dengan anak berumur 4 tahun. Bagas tetap memberi respon hangat.
Perkenalan itu dilanjutkan dengan bertukar pin BB dan berkirim foto, hingga pertemuan. Silvia tak bisa menampik, Bagas memang lebih ganteng dari suaminya. Ditambah lagi, dia tak segan segan membelikan seragam sekolah mahal untuk anaknya. Silvia terharu sekaligus jatuh hati.
Hari hari berikutnya, pesan chat antara Silvia dan Bagas semakin mengarah kepada hal hal tak wajar. Hingga ujungnya, dia tak ragu untuk mengirim foto foto tak senonoh kepada Bagas.
Silvia benar-benar terbuai. Dia tak mengira ada lelaki yang menaruh hati padanya walau sudah bersuami. Apalagi, lelaki itu seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama.
Selanjutnya, Silvia dan Bagas memutuskan untuk check in di hotel. Mereka melakukannya tidak hanya sekali, tapi berkali kali.
Tiga bulan berlalu. Akhirnya, Silvia harus menelan pil pahit dari perbuatannya. Dia hamil. Hebatnya, bukanya merasa panik, tapi malah biasa saja.
Setiap orang tua tentu merasa berbahagia dengan kehamilan putrinya. Sayangnya, tidak dengan orang tua Silvia. Mereka merasa heran dan mempermasalahkannya.
Bagaimana tidak? Sudah setahun suaminya bekerja di pengeboran lepas pantai luar Jawa. Jadi, selama setahun penuh, Silvia tak bertemu dengan sang suami, apakah masuk akal jika dia hamil?
Silvia membantah dan mengatakan bahwa itu anak dari suaminya. Sayangnya, orang tuanya tak mau percaya begitu saja. Sang suami disuruh pulang segera. Panggil saja namanya Dani (samaran).
Setibanya di rumah Dani langsung memeriksa BB dan Facebook Silvia, istrinya. Sontak saja semua terbongkar karena percakapan bersama Bagas masih belum dihapus.
Silvia bertekuk lutut pada suami dan menyembah nyembah untuk memohon ampun dan meminta maaf pada orang tuanya.
"Menantuku, ceraikan istrimu. Biarlah kami kehilangan anak daripada harus kehilangan menantu sepertimu!" ucap sang ibu.
"Dan kau!" sang ibu menuding ke arah Silvia dengan mata berair, "Pergilah ke mana pun kau mau. Jangan pernah menampakkan wajah hinamu di hadapan keluarga ini."
Silvia keluar rumah dengan air mata penyesalan. Semua sudah terlambat. Dia bahkan tak diizinkan untuk memeluk sang anak.
Dia coba mencari Bagas demi meminta pertanggungjawaban, tapi BBM dan Facebooknya sudah tak aktif lagi. Lalu, Silvia coba ke Jogja dan mendatangi kampus tempat Bagas kuliah, hasilnya tetap saja nihil. Tak ada seorang pun yang mengenalnya. Bahkan, dikatakan dia bukanlah mahasiswa di universitas tersebut.
Silvia bingung luar biasa. Apalagi, kandungannya sudah jalan 6 bulan. Uang menipis, dia terkatung katung. Dan tak tahu lagi harus ke mana.
***
Bijaklah dalam bersosial media. Betapa banyak rumah tangga rusak karena perkenalan dengan seseorang di dunia maya. Jangan sekali kali mengundang prahara yang bisa membuat retaknya hubungan suami istri dengan cara berkenalan dengan fulan atau fulanah walau sekadar iseng semata.
Semoga kisah di atas bisa menjadi renungan bersama.