Kehidupanku berjalan sangat harmonis; orang tua penyayang, mertua yang baik, ditambah lagi memiliki suami setia dan lembut. Secara kasat mata, semuanya nampak sempurna.
Apalagi, di sisiku ada seorang sahabat yang begitu peduli dan senantiasa berharap aku dalam kebahagiaan. Dia menjadi pengapit pengantin di hari pernikahanku. Senarai doa terucap khidmat dari bibirnya.
Dalam segi perekonomian, semua tercukupi. Suamiku orang kantoran, kadang harus ke luar kota terkait pekerjaan. Aku tak masalah, toh dia bukan pergi untuk meninggalkanku.
Suatu ketika, suamiku harus ke luar kota seperti biasanya. Kali ini dalam kurun waktu yang cukup lama. Dia menyarankan agar aku tinggal di rumah mertua saja karena tak ada yang menemani. Khawatir, akan terjadi sesuatu yang tidak tidak.
Hubunganku dengan mertua tak memiliki masalah sedikit pun, tapi tetap saja ada rasa kurang nyaman jika tak di temani suami. Akhirnya kuputuskan untuk menginap di rumah sahabatku.
Mendengar aku akan menginap di rumahnya, dia begitu antusias dan senang. Dia langsung menyiapkan segala keperluanku; sandal, baju tidur, handuk, bahkan hingga sikat gigi. Jadi, aku hanya membawa beberapa barang saat ke rumahnya.
***
Malam hari,
Saat itu aku ingin mandi dan melihat keadaan wastafel berantakan. Kupikir, dia terlalu sibuk bekerja hingga tak memiliki waktu untuk merapikannya. Jadi kuputuskan untuk beres beres terlebih dahulu.
Saat merapikan wastafel, aku menemukan sebuah kotak kecil. Entah kenapa, ada rasa penasaran ingin melihatnya. Namun, betapa terkejutnya aku melihat isinya. Ternyata itu sebuah benda yang sangat kukenal.
Bagaimana tidak? Itu adalah gelang yang kuberikan pada suami saat ulang tahunnya. Aku tahu persis karena meminta diukirkan tanggal lahirnya saat membeli.
Memang sudah beberapa minggu gelang itu tak dipakai suamiku Saat kutanya, dia mengatakan bahwa gelang tersebut tertinggal di kantor.
Lalu bagaimana bisa ada di sini? Tiba-tiba saja aku merinding dan tak ingin membayangkan apa yang telah terjadi.
Kumasukkan benda itu ke dalam saku celana. Lalu keluar kamar mandi dengan tubuh gemetar. Kuambil tas dan pergi tanpa mengucap sepatah kata pun pada sahabatku.
***
Sungguh hati ini dilema. Apa yang harus kulakukan? Mungkinkan rumah tangga hancur karena sebuah gelang? Haruskah meminta penjelasan? Tapi kuatkah aku menghadapi kenyataan? Atau membiarkan rahasia ini terpendam dalam dalam?
***
Hati hatilah dengan sahabatmu. Kadang, dia nampak baik di mata tapi diam diam memegang sebilah pisau untuk menusukmu. Kau boleh menaruh kepercayaan pada siapa pun yang kau anggap layak untuk dipercayai. Namun, tetaplah jua berhati-hati.
Karena manusia bisa begitu cepat berubah. Terkadang menjadi kawan di pagi harinya, sorenya malah menjadi lawan yang menoreh luka. Apalagi dalam urusan cinta, sangat memungkinkan hal itu terjadi.